Suatu hari saya menulis status di BB seperti ini: "sakinah itu, jika istri capek suami dengan senang hati mijitin, dan sebaliknya". Kontan status itu mengundang banyak komen dari teman-teman BB, bahkan di group BBM juga menjadi bahan obrolan. Lalu besoknya lagi saya ubah statusku menjadi: "sakinah itu, saat suami istri bisa ngobrol asyik setiap waktu". Dan status inipun juga mengundang banyak komen. Saya sebenarnya masih akan menambahkan banyak hal lagi tentang sakinah, namun menghindari berbagai komen lagi maka tidak saya tulis di status BB.
Sakinah itu dalam bahasa Indonesia dimaknai rasa kedamaian, ketenangan, ketenteraman yang tumbuh di hati pasangan suami istri. Ya sakinah itu adalah rasa damai yang tumbuh di hati suami dan istri karena kepuasan atas pasangan satu sama lain. Rasa tenang dan damai itu tumbuh karena adanyanya kepercayaan satu sama lain.
Suami yang percaya dan puas terhadap istrinya akan merasa tenang dalam bekerja dan beraktivitas apapun baik di dalam dan di luar rumah. Suami akan bebas mengekspresikan sisi kemanusiaannya termasuk sisi kemanjaannya tanpa merasa khawatir akan dinilai negatif oleh istrinya. Suami bebas bermanja-manja terhadap istrinya, bebas menggoda istrinya, bebas mengekspresikan rasa humornya tanpa khawatir bahwa istrinya akan marah atau tersinggung. Bahkan rasa kesal, cemburu, dan marahnyapun bisa diekspresikan dengan bebas dengan penuh keyakinan bahwa istrinya akan memahami perasaannya.
Begitu pula istri yang merasakan sakinah dalam kehidupan rumah tangganya akan tidak merasa takut untuk mengekspresikan berbagai emosinya. Istri akan bisa bercerita apa saja terhadap suaminya tanpa rasa sungkan dan takut suaminya marah atau terganggu. Bahkan seperti status saya di atas, istri bisa leluasa minta dipijitin suaminya saat merasa lelah (tentunya setelah memperhatikan kondisi suaminya tidak dalam kondisi capek). Istri yang merasakan sakinah juga akan bisa membalas humor-humor yang dilontarkan suaminya dengan cerdas sehingga mereka bisa mengakhirinya dengan tertawa bersama. Indahnya dunia bagi suami istri yang merasakan sakinah.
Dalam Al Qur'an Allah mengibaratkan bahwa pasangan kita adalah pakaian kita. Pakaian yang cocok itulah jodoh yang membuat keberadaan pasangan kita menjadi orang yang bisa meng-"indah"-kan diri kita dan menutupi kekurangan kita. Pasangan kita adalah orang yang diperkenankan Allah untuk mengetahui segala rahasia kita. Maka Allah-pun mengibaratkan ikatan pernikahan sekuat ikatan antara Allah dan rasulNya sebagai "mitsaqon gholiza". Oleh karena sakralnya ikatan pernikahan itu Allah menciptakan rasa sakinah, mawwadah wa rahmah di hati suami istri seperti dalam Al Quran QS. Ar-Rum ayat 21.
“Di antara tanda-tanda (kemahaan-Nya) adalah Dia telah menciptakan dari jenismu (manusia) pasangan-pasangan agar kamu memperoleh sakiinah disisinya, dan dijadikannya di antara kamu mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya dalam hal yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kemahaan-Nya) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum:21)
Dari ayat tersebut sakinah disebut pertama kali sebelum mawwadah dan rahmah. Karena, dengan rasa sakinahlah bisa muncul mawwadah wa rahmah. Setelah memiliki rasa tenang dan damai-lah, suami istri bisa merasakan kebahagiaan (mawwadah) dan kasih sayang (rahmah). Kebahagiaan (mawwadah) adalah rasa cinta yang membuat suami istri selalu ingin bersama bahkan merasa takut kehilangan satu sama lain. Dengan mawwadah suami istri selalu mencari satu sama lain jika pasangan tidak berada di dekatnya. Istri atau suami menjadi orang pertama yang dicari saat tiba di rumah. Dengan mawwadah suami istri senang menghabiskan waktu berdua saja.
Sedangkan rahmah (rasa kasing sayang) adalah kesediaan hati untuk memperhatikan bahkan mengorbankan apapun untuk kebahagiaan pasangannya. Dengan rahmah ini seorang istri dengan senang hati melayani dan memenuhi kebutuhan suaminya. Menyiapkan makanan kesukaan suaminya, menyiapkan pakaiannya, menyiapkan tempat tidur yang bersih dan harum buat suaminya. Segala keperluan suaminya terperhatikan. Dengan kasih sayang suami rela menyediakan rumah yang aman dan nyaman untuk istri dan anaknya. Suami rela membantu kesibukan istrinya karena tidak ingin istrinya terlalu lelah. Dengan rahmah suami mencemaskan keberadaan istrinya yang jauh darinya.
Sakinah itu dalam bahasa Indonesia dimaknai rasa kedamaian, ketenangan, ketenteraman yang tumbuh di hati pasangan suami istri. Ya sakinah itu adalah rasa damai yang tumbuh di hati suami dan istri karena kepuasan atas pasangan satu sama lain. Rasa tenang dan damai itu tumbuh karena adanyanya kepercayaan satu sama lain.
Suami yang percaya dan puas terhadap istrinya akan merasa tenang dalam bekerja dan beraktivitas apapun baik di dalam dan di luar rumah. Suami akan bebas mengekspresikan sisi kemanusiaannya termasuk sisi kemanjaannya tanpa merasa khawatir akan dinilai negatif oleh istrinya. Suami bebas bermanja-manja terhadap istrinya, bebas menggoda istrinya, bebas mengekspresikan rasa humornya tanpa khawatir bahwa istrinya akan marah atau tersinggung. Bahkan rasa kesal, cemburu, dan marahnyapun bisa diekspresikan dengan bebas dengan penuh keyakinan bahwa istrinya akan memahami perasaannya.
Begitu pula istri yang merasakan sakinah dalam kehidupan rumah tangganya akan tidak merasa takut untuk mengekspresikan berbagai emosinya. Istri akan bisa bercerita apa saja terhadap suaminya tanpa rasa sungkan dan takut suaminya marah atau terganggu. Bahkan seperti status saya di atas, istri bisa leluasa minta dipijitin suaminya saat merasa lelah (tentunya setelah memperhatikan kondisi suaminya tidak dalam kondisi capek). Istri yang merasakan sakinah juga akan bisa membalas humor-humor yang dilontarkan suaminya dengan cerdas sehingga mereka bisa mengakhirinya dengan tertawa bersama. Indahnya dunia bagi suami istri yang merasakan sakinah.
Dalam Al Qur'an Allah mengibaratkan bahwa pasangan kita adalah pakaian kita. Pakaian yang cocok itulah jodoh yang membuat keberadaan pasangan kita menjadi orang yang bisa meng-"indah"-kan diri kita dan menutupi kekurangan kita. Pasangan kita adalah orang yang diperkenankan Allah untuk mengetahui segala rahasia kita. Maka Allah-pun mengibaratkan ikatan pernikahan sekuat ikatan antara Allah dan rasulNya sebagai "mitsaqon gholiza". Oleh karena sakralnya ikatan pernikahan itu Allah menciptakan rasa sakinah, mawwadah wa rahmah di hati suami istri seperti dalam Al Quran QS. Ar-Rum ayat 21.
“Di antara tanda-tanda (kemahaan-Nya) adalah Dia telah menciptakan dari jenismu (manusia) pasangan-pasangan agar kamu memperoleh sakiinah disisinya, dan dijadikannya di antara kamu mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya dalam hal yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kemahaan-Nya) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum:21)
Dari ayat tersebut sakinah disebut pertama kali sebelum mawwadah dan rahmah. Karena, dengan rasa sakinahlah bisa muncul mawwadah wa rahmah. Setelah memiliki rasa tenang dan damai-lah, suami istri bisa merasakan kebahagiaan (mawwadah) dan kasih sayang (rahmah). Kebahagiaan (mawwadah) adalah rasa cinta yang membuat suami istri selalu ingin bersama bahkan merasa takut kehilangan satu sama lain. Dengan mawwadah suami istri selalu mencari satu sama lain jika pasangan tidak berada di dekatnya. Istri atau suami menjadi orang pertama yang dicari saat tiba di rumah. Dengan mawwadah suami istri senang menghabiskan waktu berdua saja.
Sedangkan rahmah (rasa kasing sayang) adalah kesediaan hati untuk memperhatikan bahkan mengorbankan apapun untuk kebahagiaan pasangannya. Dengan rahmah ini seorang istri dengan senang hati melayani dan memenuhi kebutuhan suaminya. Menyiapkan makanan kesukaan suaminya, menyiapkan pakaiannya, menyiapkan tempat tidur yang bersih dan harum buat suaminya. Segala keperluan suaminya terperhatikan. Dengan kasih sayang suami rela menyediakan rumah yang aman dan nyaman untuk istri dan anaknya. Suami rela membantu kesibukan istrinya karena tidak ingin istrinya terlalu lelah. Dengan rahmah suami mencemaskan keberadaan istrinya yang jauh darinya.
*************
Sakinah, mawwadah dan rahmah, tentunya bukan rasa yang datang dengan tiba-tiba tapi hasil perjuangan. Rasa ini adalah hasil perawatan dan pemupukan rasa cinta yang sudah tumbuh di awal pernikahan. Rasa ini ditempa oleh kesediaan dan keikhlasan menerima dan menyelesaikan masalah yang timbul dalam perjalanan pernikahan. Juga, keihklasan untuk menerima kelebihan dan kekurangan pasangannya, seperti kata indah " I love you, just the way you are".
Lebih dari itu, sakinah mawwadah wa rahmah adalah rasa yang tumbuh karena kesadaran kita bahwa pasangan kita adalah amanah Allah. Maka segala sesuatunya kita niatkan dan lakukan hanya karena Allah. Itulah sorga di dunia yang Insya Allah juga sorga di akhirat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar