Rabu, 16 April 2014

Menjadi Ibu (tiri) yang Sukses

Judul di atas adalah judul buku yang saya harapkan dapat saya peroleh dan baca sebelum saya memutuskan menikah dengan suami saya sekarang yang waktu itu berstatus duda dengan lima orang anak bersamanya. Namun sampai pernikahan kami berjalan hingga sekarang ini buku yang saya harapkan itu belum juga saya temukan. Mengapa tidak ada penulis yang menulis tentang tema di atas. Apa bayangan seorang ibu (tiri) tidak cukup layak untuk menjadi pelajaran yang bisa dituliskan. Atau seperti gambaran kita selama ini bahwa ibu (tiri) itu kejam. Juga seperti lagu yang lekat kita dengar bahwa "ibu tiri hanya cinta kepada ayahku saja...dst. Dan aku harus segera memutuskan meski belum menemukan referensi yang cocok untuk saya pelajari sebelumnya.

Namun, memang hidup ini misteri, itulah yang saya alami sekarang, menjadi ibu (tiri) dari 5 orang anak. Tentu saja saya tidak pernah membayangkan akan menjalani peran ini dalam perjalanan hidup saya. Kata teman saya, mendidik anak-anak sendiri saja tidak mudah, apalagi bukan anak-anak sendiri. Namun sebagai orang yang dikarunia akal budi, tentu saja saya sudah mempertimbangkan segala hal sebelum menerima amanah ini.

Langkah awal saya ya seperti di atas mencari referensi,  mencoba belajar dari pengalaman hidup orang lain. Namun langkah awal ini ternyata tidak sukses, belum ada buku referensi yang saya cari. Tentu saja saya tidak lantas diam dan putus asa, saya mencari orang yang tepat untuk saya ajak diskusi tentang apa dan bagaimana seorang ibu (tiri). Orang pertama dan utamanya adalah calon suami saya waktu itu. Kami berdiskusi panjang tentang berbagai hal dalam pendidikan anak. Apa yang sudah dilakukan, apa yang dialami dan rasakan anak-anak, apa yang mereka harapkan, bagaimana pandangan mereka dengan kehadiran ibu (tiri) dalam kehidupan mereka, bagaimana hubungan mereka dengan ibu kandungnya, dsb. Diskusi panjang ini sedikit banyak membuat saya mengenali anak-anak dan menyiapkan mental saya menghadapi mereka.

Orang kedua yang saya ajak diskusi tentunya adalah orang tua. Orang tua adalah orang yang paling mengerti kita. Mereka bisa menilai dengan jujur apakah kita akan cocok dan sanggup menjalani suatu peran atau tidak. Mereka juga orang pertama yang membela dan mendukung kita jika ada masalah yang menerpa kita. Dan orang tua saya yakin saya bisa menjalani peran saya ini.

Orang berikutnya adalah psikolog dan sahabat-sahabat saya. Alhamdulillah saya memiliki sahabat psikolog dan teman-teman yang juga seorang muslimah yang taat juga istri dan ibu dari anak-anak yang hebat. Nasihatnya singkat dan mengena. Kamu kan guru, terbiasa menghadapi anak-anak dengan berbagai wataknya. Pada prinsipnya setiap orang sama, dengan ketulusan dan keikhlasan mendidik Insya Allah semua bisa teratasi.

Begitulah langkah awal saya, langkah berikutnya nanti saya tuliskan lagi. Namun beberapa prinsip sudah saya tanamkan dalam diri saya saat menerima amanah ini yaitu:

1. Niatkan mendidik anak (tiri) sebagai amal soleh, ingat waladun soleh, bukan bintun soleh.
2. Apa yang suami saya cintai akan saya cintai
3. Tidak pernah mengharap perlakuan hormat atau apapun dari anak (tiri) selayaknya perlakuan seorang anak terhadap ibunya. Cukuplah balasan Allah  saja. Jadi bisa ikhlas.
4. Jika menghadapi kesulitan menghadapi mereka, ingat bahwa merekapun juga menghadapi kesulitan. Setiap anak pasti mengharapkan tinggal bersama orang tua kandungnya. Jadi bisa sabar.
5. Tidak pernah berniat untuk menyaingi ibu kandungnya. I know where I am.
6. Selama ada suami saya di samping saya, semua menjadi indah, tidak ada masalah yang berat. Because we love so much each other.

Wallahu'alam bi showab..


Sakinah itu...

Suatu hari saya menulis status di BB seperti ini: "sakinah itu, jika istri capek suami dengan senang hati mijitin, dan sebaliknya". Kontan status itu mengundang banyak komen dari teman-teman BB, bahkan di group BBM juga menjadi bahan obrolan. Lalu besoknya lagi saya ubah statusku menjadi: "sakinah itu, saat suami istri bisa ngobrol asyik setiap waktu". Dan status inipun juga mengundang banyak komen. Saya sebenarnya masih akan menambahkan banyak hal lagi tentang sakinah, namun menghindari berbagai komen lagi maka tidak saya tulis di status BB.

Sakinah itu dalam bahasa Indonesia dimaknai rasa kedamaian, ketenangan, ketenteraman yang tumbuh di hati pasangan suami istri. Ya sakinah itu adalah rasa damai yang tumbuh di hati suami dan istri karena kepuasan atas pasangan satu sama lain. Rasa tenang dan damai itu tumbuh karena adanyanya kepercayaan satu sama lain.

Suami yang percaya dan puas terhadap istrinya akan merasa tenang dalam bekerja dan beraktivitas apapun baik di dalam dan di luar rumah. Suami akan bebas mengekspresikan sisi kemanusiaannya termasuk sisi kemanjaannya tanpa merasa khawatir akan dinilai negatif oleh istrinya. Suami bebas bermanja-manja terhadap istrinya, bebas menggoda istrinya, bebas mengekspresikan rasa humornya tanpa khawatir bahwa istrinya akan marah atau tersinggung. Bahkan rasa kesal, cemburu, dan marahnyapun bisa diekspresikan dengan bebas dengan penuh keyakinan bahwa istrinya akan memahami perasaannya.

Begitu pula istri yang merasakan sakinah dalam kehidupan rumah tangganya akan tidak merasa takut untuk mengekspresikan berbagai emosinya. Istri akan bisa bercerita apa saja terhadap suaminya tanpa rasa sungkan dan takut suaminya marah atau terganggu. Bahkan seperti status saya di atas, istri bisa leluasa minta dipijitin suaminya saat merasa lelah (tentunya setelah memperhatikan kondisi suaminya tidak dalam kondisi capek). Istri yang merasakan sakinah juga akan bisa membalas humor-humor yang dilontarkan suaminya dengan cerdas sehingga mereka bisa mengakhirinya dengan tertawa bersama. Indahnya dunia bagi suami istri yang merasakan sakinah.

Dalam Al Qur'an Allah mengibaratkan bahwa pasangan kita adalah pakaian kita. Pakaian yang cocok itulah jodoh yang membuat keberadaan pasangan kita menjadi orang yang bisa meng-"indah"-kan diri kita dan menutupi kekurangan kita. Pasangan kita adalah orang yang diperkenankan Allah untuk mengetahui segala rahasia kita. Maka Allah-pun mengibaratkan ikatan pernikahan sekuat ikatan antara Allah dan rasulNya sebagai "mitsaqon gholiza". Oleh karena sakralnya ikatan pernikahan itu Allah menciptakan rasa sakinah, mawwadah wa rahmah di hati suami istri seperti dalam Al Quran QS. Ar-Rum ayat 21.

“Di antara tanda-tanda (kemahaan-Nya) adalah Dia telah menciptakan dari jenismu (manusia) pasangan-pasangan agar kamu memperoleh sakiinah disisinya, dan dijadikannya di antara kamu mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya dalam hal yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kemahaan-Nya) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum:21)

Dari ayat tersebut sakinah disebut pertama kali sebelum mawwadah dan rahmah. Karena, dengan rasa sakinahlah bisa muncul mawwadah wa rahmah. Setelah memiliki rasa tenang dan damai-lah, suami istri bisa merasakan kebahagiaan (mawwadah) dan kasih sayang (rahmah). Kebahagiaan (mawwadah) adalah rasa cinta yang membuat suami istri selalu ingin bersama bahkan  merasa takut kehilangan satu sama lain. Dengan mawwadah suami istri selalu mencari satu sama lain jika pasangan tidak berada di dekatnya. Istri atau suami menjadi orang pertama yang dicari saat tiba di rumah. Dengan mawwadah suami istri senang menghabiskan waktu berdua saja.

Sedangkan rahmah (rasa kasing sayang) adalah kesediaan hati untuk memperhatikan bahkan mengorbankan apapun untuk kebahagiaan pasangannya. Dengan rahmah ini seorang istri dengan senang hati melayani dan memenuhi kebutuhan suaminya. Menyiapkan makanan kesukaan suaminya, menyiapkan pakaiannya, menyiapkan tempat tidur yang bersih dan harum buat suaminya. Segala keperluan suaminya terperhatikan. Dengan kasih sayang suami rela menyediakan rumah yang aman dan nyaman untuk istri dan anaknya. Suami rela membantu kesibukan istrinya karena tidak ingin istrinya terlalu lelah. Dengan rahmah suami mencemaskan keberadaan istrinya yang jauh darinya.

*************

Sakinah, mawwadah dan rahmah, tentunya bukan rasa yang datang dengan tiba-tiba tapi hasil perjuangan. Rasa ini adalah hasil perawatan dan pemupukan rasa cinta yang sudah tumbuh di awal pernikahan. Rasa ini ditempa oleh kesediaan dan keikhlasan menerima dan menyelesaikan masalah yang timbul dalam perjalanan pernikahan. Juga, keihklasan untuk menerima kelebihan dan kekurangan pasangannya, seperti kata indah " I love you, just the way you are".

Lebih dari itu, sakinah mawwadah wa rahmah adalah rasa yang tumbuh karena kesadaran kita bahwa pasangan kita adalah amanah Allah. Maka segala sesuatunya kita niatkan dan lakukan hanya karena Allah. Itulah sorga di dunia yang Insya Allah juga sorga di akhirat.


Selasa, 15 April 2014

Air Terjun "Sentul Paradise Park"

Mempunyai anak kecil membuat kita harus lebih sering jalan-jalan. Pengalaman jalan-jalan selain menyenangkan anak juga menjadi sarana pembelajaran yang nantinya akan memperkaya pengalaman hidup anak. Daripada memanjakan mereka dengan jalan-jalan ke mall dan permainan ilusi lainnya, wisata alam jauh lebih baik untuk mendidik anak. Oleh karena itu, kami memang sengaja menjadwalkan acara wisata alam. Kali ini tujuan kami adalah air terjun yang berada di Sentul Paradise Park.

Tidak jauh dari Jakarta, ternyata ada air terjun yang lumayan indah untuk dijadikan alternatif wisata alam. Terletak di wilayah Sentul, objek wisata ini dapat ditempuh dalam waktu sekitar 30 - 60 menit dari Jakarta. Dari arah Jakarta menuju lokasi air terjun melalui tol jagorawi dan keluar tol Sentul Selatan/Sentul City. Setelah keluar tol, menuju lokasi air terjun bisa melalui berbagai jalur. Saat itu kami mengikuti petunjuk GPS  melalui jalan alternatif yaitu jalan kampung. Jalan ini lebih pendek, namun ternyata jalanannya kurang bagus dan cukup menanjak. Beberapa kali kami harus berhenti dan bertanya kepada penduduk setempat arah menuju air terjun. Ini membuat perjalanan kami memakan waktu lebih lama. Sebenarnya jalur yang lebih bagus bisa dilalui melalui Rainbow Hill. Melalui Rainbow Hill, jalanan lebih lebar, bagus dan landai. Pulangnya kami melalui jalan ini.

Sesampai di area Sentul Pardise Park sekitar jam 9.00, masih cukup pagi jadi belum terlalu ramai. Oh ya tiket masuk area  air terjun cukup murah yaitu Rp. 15.000,0 per orang. Karena masih pagi kami bisa memilih tempat istirahat yang disewakan Rp. 50.000 per 2 jam. Setelah menyimpan barang-barang di tempat istirahat dan anak-anak berganti pakaian renang kami menuju lokasi air terjun. Air terjun ini tidak terlalu tinggi namun cukup besar dan tidak dianjurkan bagi anak-anak untuk merasakan langsung derasnya air terjun. Kami melihat ada orang dewasa yang bajunya robek terkena derasnya air terjun langsung. Anak-anak cukup bermain-main di pinggir air terjun yang cipratan airnyapun masih terasa deras.
Air terjun Sentul Paradise Park

Setelah puas bermain di area air terjun dan tentu saja berfoto ria, anak-anak bisa bermain di kolam air yang sengaja dibangun di sekitar air terjun. Disini anak-anak bisa menyewa ban-ban besar, kapal-kapalan atau main seluncuran air. Biaya sewa ban atau kapal-kapalan sebesar Rp. 20.000 sepuasnya.

Oh ya, dianjurkan untuk membawa makanan sendiri dan dimakan ramai-ramai di tempat istirahat daripada membeli makanan di area air terjun. Membeli makanan di area air terjun selain harganya mahal rasanya juga seadanya, apalagi kebersihannya. Bayangkan harga mie instan goreng saja seporsi Rp. 15.000. Lebih baik jika kita tidak sempat membawa bekal, kita bisa mampir ke resto sate kiloan yang terkenal di daerah Sentul.