Jumat, 13 Desember 2013

Titik Balik

Siapapun kita berharap perjalanan hidup yang normal, lahir, berkembang menjadi besar, sekolah, bekerja, menikah, melahirkan dan mendidik anak-anak, sebelum akhirnya kembali menghadap Illahi dengan hati yang tenang di usia tua. Namun, kehidupan setiap orang tidak selalu berlangsung normal seperti itu. Seperti itu jualah hidup yang aku alami dan impikan sebelumnya. Lahir di kampung nan permai dari orang tua yang penuh cinta dan lima saudara yang seiring sejalan menjadikan masa kecil kami yang penuh warna dan membahagiakan. Pun setelah aku beranjak remaja, bersekolah, aktif di berbagai kegiatan, mendaki gunung, menjelajah alam, semua menjadi pengalaman yang berkesan. Demikian juga ketika saatnya aku kuliah, lulus, bekerja dan akhirnya menemukan tambatan hati untuk hidup dalam mahligai pernikahan, semuanya berjalan normal dan membahagiakan. Namun, di tahun-tahun terakhir usia dua puluhan, Allah menghendaki jalan hidup yang tidak normal buatku. Di saat pernikahanku berusia 18 bulan, Allah memanggil suamiKu, meninggalkanku sendiri mengarungi dunia yang tiba-tiba saja menjadi tidak indah. Kehilangan itu membuat hatiku merasa hampa.

Aku tak berkutik menghadapi takdirMu. Engkau menguji cintaku, apakah akan berpaling atau istiqomah di jalanMu. Dan akupun menguji cintaku apakah cintaku pada manusia tidak melebihi cintaku padaMu. Namun keyakinanku, bahwa setiap kehendakMu adalah baik tak pernah tergoyahkan. Meski lelah dan terhempas, aku tak pernah menyerah dan berhenti melangkah menempuh hidup yang masih Engkau jatahkan. Terbukti kasih sayangMu berserak di sepanjang jalan. Menjadi penerang dan penunjuk jalan yang aku tempuh, memberikan kemudahan-kemudahan yang terbayangkan. Bahkan, zikir "cukuplah Engkau bagiku" membuatku nyaman tanpa teman dalam perjalanan. Engkaulah sebaik-baik teman perjalanan.

***********

Tiga belas tahun berlalu sudah sejak peristiwa memilukan itu aku alami. Dengan kehendakMu, aku mulai mempertanyakan jalan hidup yang aku pilih. Apakah ini jalan hidup yang benar, sedang Rasulullah utusanMu menganjurkan pernikahan. Menjadikan pernikahan sebagai bagian dari sunnahnya yang seharusnya kita ikuti. Dan aku memilih kembali kehadapMu di baitullah tempat mustajabnya do'a-do'a. Robbi, jika jalan hidup yang aku pilih salah, maka pertemukanlah aku dengan jodohku untuk kedua kalinya. 

Begitulah proposal kehidupanku aku ajukan kepada Yang Maha Mengatur Hidup kita. Dan, Alhamdulillah proposalku disetujui. Tak lama kemudian, Allah benar-benar menghadirkan laki-laki baik di hadapanku. Laki-laki yang saat ini menjadi suamiku. Laki-laki yang juga memiliki jalan hidup tidak normal sepertiku. Namun justru dengan jalan hidup yang tidak normal itu, bersamanya aku belajar cinta dan ketulusan. Masing-masing kami pernah mengalami ujian cinta. Namun, ujian itu menyadarkan kami akan ketidaksempurnaan kami sebagai manusia, menyadarkan kami untuk tak lelah menjadikan cintaNya sebagai muara segala hal.

Robbi, ridhoi jalan hidup kami, satukan kami dalam cintaMu di kehidupan dunia hingga akhirat nanti, beri kami kemampuan  mendidik anak-anak kami untuk mencintaiMu. Jadikan keluarga kami sakinah, mawwadah wa rahmah. Beri kami kemampuan untuk memberi manfaat terhadap keluarga, teman, dan sesama manusia yang lain. Jadikan kami hamba-hambaMu yang ikhlas dan istiqomah di jalanMu. Temani kami yaa Allah, jangan pernah tinggalkan kami dalam perjalanan hidup ini. Aamiin Yaa Robbal'alamiin.

Rabu, 11 Desember 2013

Kamar Doraemon

Bagi kita orang tua, memisahkan tidur anak-anak dari orang tua menjadi persoalan tersendiri. Anak-anak dalam batas usia tertentu masih senang tidur bersama orang tuanya. Tentu saja ini menjadi tidak baik bagi kedua belah pihak. Bagi anak, terlalu lama tidur bersama orang tua, menciptakan ketidakmandirian. Di sisi lain bagi orang tua, mesti berhati-hati jika hendak melakukan 'aktivitas malam' tatkala anak-anak masih tidur bersama mereka. Karena jika anak sampai melihat apa yang dilakukan orang tuanya ini tentu akan menjadi pengalaman yang membingungkan bahkan membahayakan bagi perkembangn psikologis anak.

Menyiapkan kamar anak sesuai dengan selera mereka merupakan salah satu solusi yang dapat dilakukan. Demikian juga yang kami lakukan untuk anak-anak  yang masih suka tidur bersama di kamar orang tua. Nasihat kami agar mereka lebih mandiri dan tidak tidur bersama orang tua rupanya tidak cukup mempan. Mereka tidak mau tidur dikamar bersama kakaknya yang telah remaja. Barangkali karena kakaknya juga merasa tidak nyaman tidur bersama adiknya yang masih kecil. Jika demikian orang tua mesti memikirkan cara lain.

Akhirnya, kami mengajak anak-anak berdialog. Mengapa mereka tidak mau tidur bersama kakaknya, sementara kamar juga memungkinkan untuk dipakai bersama. Mengapa mereka mau tidur bersama orang tua, dan sebagainya. Dari dialog itu, kami menyimpulkan bahwa mereka mau tidur sendiri jika memiliki kamar doraemon sesuai tokoh kartun kesukaannya. Jadilah, kami bekerjasama untuk menyiapkan kamar doraemon. Anak-anak memilih warna biru sebagai warna tembok kamarnya. Tempat tidur susun berwarna merah menjadi pilihan mereka, juga sprei dan bed cover motif doraemon. Tak lupa bantal doraemon turut menempati tempat tidur mereka.

Alhamdulillah kamar doraemon menjadi solusi tepat untuk mereka agar mau tidak tidur bersama orang tua. Sejak memiliki kamar doraemon, dua anak terkecil senang tidur di kamarnya sendiri. Tentu saja ini membahagiakan kami orangtuanya.

Menyiapkan kamar sendiri untuk anak bisa menjadi masalah tersendiri bagi orang tua yang rumahnya kecil. Namun bukan berarti orang tua terus membiarkan anak-anaknya tidur bersama mereka dengan segala resikonya. Bagi anak yang penting adalah rasa memiliki 'tempat'nya masing-masing untuk tidur dan beristirahat. Jika kamar sendiri tidak memungkinkan, maka memiliki tempat tidur sendiri meskipun kecil dan ditempatkan di ruangan bersama-sama dengan yang lain cukup membuat mereka nyaman.

Perasaan anak;  'ini loh tempat tidur saya', bisa membuat mereka merasa nyaman dan tahu dimana dia bisa bisa beristirahat tanpa harus merasa diganggu atau terganggu. Rasa memiliki itulah yang membuat mereka tidak memilih yang lain termasuk kenyamanan tidur bersama orang tuanya. Dan seperti yang dialami oleh anak-anak di rumah kami, mereka merasa tidak suka jika kakaknya numpang tidur bersama mereka. "Buk, aku nggak suka mbak tidur di kamarku, dia kan sudah punya kamar sendiri". Begitu ungkapan perasaannya saat kakaknya numpang tidur di kamarnya. Ah..dasar anak-anak.

Semoga kita semua termasuk orang tua yang memiliki keikhlasan dan kesabaran dalam mendidik anak-anak menjadi anak-anak yang soleh dan solehah. Aamiin.



Minggu, 01 Desember 2013

Welcome Desember

Hari masih pagi, jelang jam 08.00, ketika aku duduk di depan laptop mungilku. Udara pagi masih terasa dingin sejuk, sisa hujan tadi malam. Matahari bersinar lembut. Suasana sekolah sudah tenang, karena para siswa sudah mulai belajar di kelas masing-masing sejak jam 07.00 tadi. Celoteh siswa yang sedang berolah raga terdengar dari lapangan ditingkah suara pantulan bola di lantai lapangan basket. Ya, mereka sedang bermain basket. Sesekali tercium aroma masakan dari kantin sekolah. Dari lantai dua gedung sekolah, terlihat asap mengepul dari atap dapur rumah-rumah warga di sekitar sekolah. Pagi yang damai, di awal Desember.

Suasana damai ini sudah ratusan kali aku alami. Dan aku kembali mensyukurinya. Namun, pagi di bulan Desember serasa berbeda. Barangkali karena Desember mengingatkan kita bahwa satu tahun akan segera berakhir dan berganti dengan tahun baru. Kesadaran itu menggugah ruang batin kita untuk merefleksi apa saja yang sudah kita lakukan selama satu tahun yang lewat. Menyadarkan kita akan apa-apa yang kita ingin lakukan namun tidak terlaksana. Dan, apa yang akan kita perbaiki dan lakukan di tahun yang akan datang.
Desember juga bulan kelahiranku, menyadarkanku akan makna usia. Sudahkah sejauh ini amalku akan dapat menyelamatkanku di kehidupanku kelak. Ataukah lebih banyak dosa yang aku perbuat. Naudzubillah.

Welcome Desember, semoga aku dapat menjadi pribadi yang lebih baik. Aaamiin.


Jakarta, 2 Desember 2013