Jika laki-laki yang kamu pilih untuk kamu jadikan calon suamimu adalah sumber kebahagiaanmu kini dan nanti, maka perjuangkanlah. Sikap ego, emosional dan gengsi sangat tidak penting dan kecil artinya dibanding kebahagiaan-mu, maka lepaskanlah. Tinggalkan dan jangan bawa-bawa, karena siapa lagi yang akan memperjuangkan kebahagiaan kita selain diri kita sendiri. Cinta itu tidak seperti pakaian yang bisa kita ganti sesukanya, kapan saja kita mau. Jangan kira kamu bisa benar-benar melepaskannya, maka hadapilah masalah ini, jangan menyerah. Dan kebahagiaan pernikahan akan sempurna jika dua keluarga saling ridho. Anak gadis itupun sesenggukan mendengarkan nasihat orang tuanya.
Begitulah, menjadi orang tua yang anaknya siap dan akan menikah adalah pelajaran hidup tersendiri. Sebagaimana perjalanan hidup yang tidak selalu mulus bisa jadi perjalanan cinta anak-anak kita-pun tidak mulus menuju pelaminan. Terkadang ada pihak keluarga yang tidak menyetujui, terkadang ada pria/wanita lain dalam proses perjalanan cinta mereka, dan sebagainya. Di situ peran orang tua ternyata cukup penting.
Jika anak kita memiliki masalah dalam perjalanannya menuju pernikahan, sikap utama dan pertama sebagai orang tua adalah sikap bijaksana, tidak emosional apalagi memaksakan kehendak. Sikap ini akan memandu kita untuk menemukan rujukan bagaimana pandangan agama terhadap masalah tersebut. Dari pandangan agama itu, orang tua bisa menentukan sikap apakah harus dilanjutkan atau diputuskan hubungan anak-anak kita. Jadi pertimbangan utama dan terutama menyikapi masalah anak adalah pandangan agama terhadap masalah tersebut.
Contoh kasus ada sebagian kita yang begitu mempertimbangkan bibit, bobot, bebet calon pasangan anak-anaknya. Tentu saja hal itu boleh-boleh saja senyampang tidak bertentangan dengan kehendak anak. Karena, bahkan agamapun cukup bijaksana menyikapi hal tersebut. Menurut pandangan agama (Islam), kebaikan atau keburukan itu adalah hasil perbuatan sendiri, bukan sebab orang tuanya. Dalam Al Qur,an diceritakan kisah Nabi Nuh yang anaknya masih tetap kafir meski orang tuanya seorang Nabi. Demikian juga kisah Nabi Ibrahim yang lahir dan besar dari orang-tua penyembah berhala.
Kisah lain memberi contoh bahwa bahkan pasanganpun tidak membuat kita lebih baik atau lebih buruk. Kita bisa membaca kisah Siti Asiah yang tetap mulia meski bersuamikan Fir'aun, kisah istri nabi Luth yang durhaka meski bersuamikan seorang Nabi, dan kisah Maryam salah seorang wanita penghulu sorga meski seumur hidupnya tidak menikah.
Selanjutnya, kita perlu kenali karakter anak kita dan calon pasangan anak kita. Kita perlu kenali kelebihannya, kekurangannya, kesungguhan dan tanggung jawabnya dan rasa cinta yang ada di hati keduanya. Layakkah mereka berdua mendapat pembelaan orang tuanya. Jika kita sudah yakin, maka tugas orang tua adalah memberi dukungan dan memudahkan pernikahan mereka. Setelah ikhtiar maksimal dan do'a maksimal, kita serahkan hasilnya kepada Allah SWT yang maha Mengatur hidup manusia.
Begitulah, menjadi orang tua yang anaknya siap dan akan menikah adalah pelajaran hidup tersendiri. Sebagaimana perjalanan hidup yang tidak selalu mulus bisa jadi perjalanan cinta anak-anak kita-pun tidak mulus menuju pelaminan. Terkadang ada pihak keluarga yang tidak menyetujui, terkadang ada pria/wanita lain dalam proses perjalanan cinta mereka, dan sebagainya. Di situ peran orang tua ternyata cukup penting.
Jika anak kita memiliki masalah dalam perjalanannya menuju pernikahan, sikap utama dan pertama sebagai orang tua adalah sikap bijaksana, tidak emosional apalagi memaksakan kehendak. Sikap ini akan memandu kita untuk menemukan rujukan bagaimana pandangan agama terhadap masalah tersebut. Dari pandangan agama itu, orang tua bisa menentukan sikap apakah harus dilanjutkan atau diputuskan hubungan anak-anak kita. Jadi pertimbangan utama dan terutama menyikapi masalah anak adalah pandangan agama terhadap masalah tersebut.
Contoh kasus ada sebagian kita yang begitu mempertimbangkan bibit, bobot, bebet calon pasangan anak-anaknya. Tentu saja hal itu boleh-boleh saja senyampang tidak bertentangan dengan kehendak anak. Karena, bahkan agamapun cukup bijaksana menyikapi hal tersebut. Menurut pandangan agama (Islam), kebaikan atau keburukan itu adalah hasil perbuatan sendiri, bukan sebab orang tuanya. Dalam Al Qur,an diceritakan kisah Nabi Nuh yang anaknya masih tetap kafir meski orang tuanya seorang Nabi. Demikian juga kisah Nabi Ibrahim yang lahir dan besar dari orang-tua penyembah berhala.
Kisah lain memberi contoh bahwa bahkan pasanganpun tidak membuat kita lebih baik atau lebih buruk. Kita bisa membaca kisah Siti Asiah yang tetap mulia meski bersuamikan Fir'aun, kisah istri nabi Luth yang durhaka meski bersuamikan seorang Nabi, dan kisah Maryam salah seorang wanita penghulu sorga meski seumur hidupnya tidak menikah.
Selanjutnya, kita perlu kenali karakter anak kita dan calon pasangan anak kita. Kita perlu kenali kelebihannya, kekurangannya, kesungguhan dan tanggung jawabnya dan rasa cinta yang ada di hati keduanya. Layakkah mereka berdua mendapat pembelaan orang tuanya. Jika kita sudah yakin, maka tugas orang tua adalah memberi dukungan dan memudahkan pernikahan mereka. Setelah ikhtiar maksimal dan do'a maksimal, kita serahkan hasilnya kepada Allah SWT yang maha Mengatur hidup manusia.