Mempersiapkan pernikahan anak tidak melulu persiapan pesta pernikahan; gedung, konsumsi, dekorasi, rias, dan sebagainya. Menurut suami saya persiapan hal-hal seperti adalah nomor dua puluh tiga. Maksudnya bukan hal yang penting atau harus di nomor-satukan. Lalu apa yang penting harus dipersiapkan. Menurut suamiku yang terpenting adalah persiapan mental. Maka pertanyaan suamiku kepada anak pertama yang akan menikah waktu itu adalah; "seberapa serius calon suamimu menginginkanmu menjadi istrinya"? seberapa besar arti dirimu bagi hidupnya, dan sebaliknya. Begitulah diskusi-diskusi penting yang kami lakukan tiap hari. Dari diskusi itu kami sebagai orang tua dapat menangkap keseriusan dua calon pengantin untuk melaksanakan niatnya.
Setelah diskusi pertama itu selesai dan orang tua yakin tentang kesungguhan anak maka hal penting selanjutnya adalah orang tua dan keluarga. Menikah itu itu tidak sekedar menyatukan dua manusia dalam ikatan pernikahan, namun juga 'seyogyanya' menyatukan dua keluarga. Jika seluruh keluarga besar agak sulit disatukan, terutama adalah orang tua calon pengantin wanita dan laki-laki. Sebelum pernikahan berlangsung sudah selayaknya masing berusaha meminta do'a restu dan ridho orang tua. Faktanya, tidak semua orang tua mudah meridhoi pernikahan anaknya dengan berbagai alasan. Jika kondisinya seperti itu, tetap anak harus berusaha maksimal dengan berbagai cara mengambil hati orang tuanya agar merestui. Seandainya masih ada orang tua yang belum ridho, kita kembalikan kepada tuntunan agama. Alhamdulillah orang tua kedua belah pihak sudah setuju dan meridhoi rencana pernikahan anak pertama.
Selanjutnya adalah persiapan mental calon pengantin. Dalam proses ini, kami memanfaatkan saat makan pagi, makan malam untuk menyelipkan nasihat-nasihat pernikahan. Suami saya menasihatkan bahwa tolok ukur kebahagiaan rumah tangga itu bukan banyak harta yang dimiliki, banyaknya anak yang dimiliki dan sebagainya. Kebahagiaan rumah tangga adalah saat pernikahan menjadikan seorang suami dan istri makin baik ibadahnya, makin baik akhlaknya. Saat mereka mampu menjadi orang tua yang sabar dalam mendidik anak-anaknya.
Proses selanjutnya setelah kedua orang tua setuju baru mempersiapkan acara akad nikah dan pesta pernikahan. Untuk proses ini, kami punya prinsip untuk melakukan proses pernikahan yang sesuai dengan kemampuan. Jangan pernah memaksakan diri membuat pesta hanya karena mengikuti komentar orang. Untuk ini memang kita harus berani mengambil sikap. Insya Allah jika semua persiapan tadi dilaksanakan acara prosesi pernikahan hingga perjalanan rumah tangga anak-anak kita akan sakinah mawwadah wa rahmah. Aaamiin.
Setelah diskusi pertama itu selesai dan orang tua yakin tentang kesungguhan anak maka hal penting selanjutnya adalah orang tua dan keluarga. Menikah itu itu tidak sekedar menyatukan dua manusia dalam ikatan pernikahan, namun juga 'seyogyanya' menyatukan dua keluarga. Jika seluruh keluarga besar agak sulit disatukan, terutama adalah orang tua calon pengantin wanita dan laki-laki. Sebelum pernikahan berlangsung sudah selayaknya masing berusaha meminta do'a restu dan ridho orang tua. Faktanya, tidak semua orang tua mudah meridhoi pernikahan anaknya dengan berbagai alasan. Jika kondisinya seperti itu, tetap anak harus berusaha maksimal dengan berbagai cara mengambil hati orang tuanya agar merestui. Seandainya masih ada orang tua yang belum ridho, kita kembalikan kepada tuntunan agama. Alhamdulillah orang tua kedua belah pihak sudah setuju dan meridhoi rencana pernikahan anak pertama.
Selanjutnya adalah persiapan mental calon pengantin. Dalam proses ini, kami memanfaatkan saat makan pagi, makan malam untuk menyelipkan nasihat-nasihat pernikahan. Suami saya menasihatkan bahwa tolok ukur kebahagiaan rumah tangga itu bukan banyak harta yang dimiliki, banyaknya anak yang dimiliki dan sebagainya. Kebahagiaan rumah tangga adalah saat pernikahan menjadikan seorang suami dan istri makin baik ibadahnya, makin baik akhlaknya. Saat mereka mampu menjadi orang tua yang sabar dalam mendidik anak-anaknya.
Proses selanjutnya setelah kedua orang tua setuju baru mempersiapkan acara akad nikah dan pesta pernikahan. Untuk proses ini, kami punya prinsip untuk melakukan proses pernikahan yang sesuai dengan kemampuan. Jangan pernah memaksakan diri membuat pesta hanya karena mengikuti komentar orang. Untuk ini memang kita harus berani mengambil sikap. Insya Allah jika semua persiapan tadi dilaksanakan acara prosesi pernikahan hingga perjalanan rumah tangga anak-anak kita akan sakinah mawwadah wa rahmah. Aaamiin.