Jumat, 29 Mei 2015

Menyiapkan Pernikahan Anak (2)

Mempersiapkan pernikahan anak tidak melulu persiapan pesta pernikahan; gedung, konsumsi, dekorasi, rias, dan sebagainya. Menurut suami saya persiapan hal-hal seperti adalah nomor dua puluh tiga. Maksudnya bukan hal yang penting atau harus di nomor-satukan. Lalu apa yang penting harus dipersiapkan. Menurut suamiku yang terpenting adalah persiapan mental. Maka pertanyaan suamiku kepada anak pertama yang akan menikah waktu itu adalah; "seberapa serius calon suamimu menginginkanmu menjadi istrinya"? seberapa besar arti dirimu bagi hidupnya,  dan sebaliknya. Begitulah diskusi-diskusi penting yang kami lakukan tiap hari. Dari diskusi itu kami sebagai orang tua dapat menangkap keseriusan dua calon pengantin untuk melaksanakan niatnya.

Setelah diskusi pertama itu selesai dan orang tua yakin tentang kesungguhan anak maka hal penting selanjutnya adalah orang tua dan keluarga. Menikah itu itu tidak sekedar menyatukan dua manusia dalam ikatan pernikahan, namun juga 'seyogyanya' menyatukan dua keluarga. Jika seluruh keluarga besar agak sulit disatukan, terutama adalah orang tua calon pengantin wanita dan laki-laki. Sebelum pernikahan berlangsung sudah selayaknya masing berusaha meminta do'a restu dan ridho orang tua. Faktanya, tidak semua orang tua mudah meridhoi pernikahan anaknya dengan berbagai alasan. Jika kondisinya seperti itu, tetap anak harus berusaha maksimal dengan berbagai cara mengambil hati orang tuanya agar merestui. Seandainya masih ada orang tua yang belum ridho, kita kembalikan kepada tuntunan agama. Alhamdulillah orang tua kedua belah pihak sudah setuju dan meridhoi rencana pernikahan anak pertama.

Selanjutnya adalah persiapan mental calon pengantin. Dalam proses ini, kami memanfaatkan saat makan pagi, makan malam untuk menyelipkan nasihat-nasihat pernikahan. Suami saya menasihatkan bahwa tolok ukur kebahagiaan rumah tangga itu bukan banyak harta yang dimiliki, banyaknya anak yang dimiliki dan sebagainya. Kebahagiaan rumah tangga  adalah saat pernikahan menjadikan seorang suami dan istri makin baik ibadahnya, makin baik akhlaknya. Saat mereka mampu menjadi orang tua yang sabar dalam mendidik anak-anaknya.

Proses selanjutnya setelah kedua orang tua setuju baru mempersiapkan acara akad nikah dan pesta pernikahan. Untuk proses ini, kami punya prinsip untuk melakukan proses pernikahan yang sesuai dengan kemampuan. Jangan pernah memaksakan diri membuat pesta hanya karena mengikuti komentar orang. Untuk ini memang kita harus berani mengambil sikap.  Insya Allah jika semua persiapan tadi dilaksanakan acara prosesi pernikahan hingga perjalanan rumah tangga anak-anak kita akan sakinah mawwadah wa rahmah. Aaamiin.



Selasa, 21 April 2015

Menyiapkan Pernikahan Anak (1)

Jika laki-laki yang kamu pilih untuk kamu jadikan calon suamimu adalah sumber kebahagiaanmu kini dan nanti, maka perjuangkanlah. Sikap ego,  emosional dan gengsi sangat tidak penting dan kecil artinya dibanding kebahagiaan-mu, maka lepaskanlah. Tinggalkan dan jangan bawa-bawa, karena siapa lagi yang akan memperjuangkan kebahagiaan kita selain diri kita sendiri. Cinta itu tidak seperti pakaian yang bisa kita ganti sesukanya, kapan saja kita mau. Jangan kira kamu bisa benar-benar melepaskannya, maka hadapilah masalah ini, jangan menyerah.  Dan kebahagiaan pernikahan akan sempurna jika dua keluarga saling ridho. Anak gadis itupun sesenggukan mendengarkan nasihat orang tuanya.

Begitulah, menjadi orang tua yang anaknya siap dan akan menikah adalah pelajaran hidup tersendiri. Sebagaimana perjalanan hidup yang tidak selalu mulus bisa jadi perjalanan cinta anak-anak kita-pun tidak mulus menuju pelaminan. Terkadang ada pihak keluarga yang tidak menyetujui, terkadang ada pria/wanita lain dalam proses perjalanan cinta mereka, dan sebagainya. Di situ peran orang tua ternyata cukup penting.

Jika anak kita memiliki masalah dalam perjalanannya menuju pernikahan, sikap utama dan pertama sebagai orang tua adalah sikap bijaksana, tidak emosional apalagi memaksakan kehendak. Sikap ini akan memandu kita untuk menemukan rujukan bagaimana pandangan agama terhadap masalah tersebut. Dari pandangan agama itu, orang tua bisa menentukan sikap apakah harus dilanjutkan atau diputuskan hubungan anak-anak kita. Jadi pertimbangan utama dan terutama menyikapi masalah anak adalah pandangan agama terhadap masalah tersebut.

Contoh kasus ada sebagian kita yang begitu mempertimbangkan bibit, bobot, bebet calon pasangan anak-anaknya. Tentu saja hal itu boleh-boleh saja senyampang tidak bertentangan dengan kehendak anak. Karena, bahkan agamapun cukup bijaksana menyikapi hal tersebut. Menurut pandangan agama (Islam), kebaikan atau keburukan itu adalah hasil perbuatan sendiri, bukan sebab orang tuanya. Dalam Al Qur,an diceritakan kisah Nabi Nuh yang anaknya masih tetap kafir meski orang tuanya seorang Nabi. Demikian juga kisah Nabi Ibrahim yang lahir dan besar dari orang-tua penyembah berhala.
Kisah lain memberi contoh bahwa bahkan pasanganpun tidak membuat kita lebih baik atau lebih buruk. Kita bisa membaca kisah Siti Asiah yang tetap mulia meski bersuamikan Fir'aun, kisah istri nabi Luth yang durhaka meski bersuamikan seorang Nabi, dan kisah Maryam salah seorang wanita penghulu sorga meski seumur hidupnya tidak menikah.

Selanjutnya, kita perlu kenali karakter anak kita dan calon pasangan anak kita. Kita perlu kenali kelebihannya, kekurangannya, kesungguhan dan tanggung jawabnya dan rasa cinta yang ada di hati keduanya. Layakkah mereka berdua mendapat pembelaan orang tuanya. Jika kita sudah yakin, maka tugas orang tua adalah memberi dukungan dan memudahkan pernikahan mereka. Setelah ikhtiar maksimal dan do'a maksimal, kita serahkan hasilnya kepada Allah SWT yang maha Mengatur hidup manusia.